Sehubungan dengan permasalahan terhadap kestabilan tanah yang sering ditemukan dalam praktik konstruksi di lapangan.  Pada umumnya jenis tanah yang sering menjadi masalah terhadap daya dukungnya memiliki karakteristik yang buruk seperti tanah jenis lempung / clay soil sampai kelanauan /silty yang mudah mengalami proses expansive / kembang susut terhadap kandungan air, tingkat permeabilitas yang rendah (nonporous) dan daya friction antar butiran yang lemah bahkan jenis tanah yang bersifat mudah mencair/liquefaction soil.

     Kestabilan tanah merupakan syarat yang paling vital dalam suatu perencanaan dan pelaksanaan pekerjaan konstruksi sipil karena telah diketahui bahwa perilaku suatu massa/beban konstruksi akan disalurkan secara aksial pada kolom yang kemudian diteruskan ke lapisan tanah di bawahnya, Hal ini merupakan suatu tantangan bagi para insinyur sipil dalam mengerjakan suatu proyek khususunya ketika menemukan kasus dengan  jenis tanah yang memiliki daya dukung yang lemah. Maka dari itu perlu dilakukan suatu rekayasa /engineering dalam meningkatkan daya dukung tanah sebagaimana yang distandarkan. Adapun beberapa bentuk rekayasa getoteknik yang lazim diaplikasikan untuk meningkatkan daya dukung suatu tanah antara lain: 

1. Compaction/Pemadatan,  

     Pemadatan merupakan proses mekanis yang sering diaplikasikan dalam proses pemadatan suatu tanah dasar / subgrade soil dan tanah timbunan/Embankment pada suatu proyek konstruksi baik jalan, gedung, bendungan dan bangunan sipil lainnya. Tujuan dari pemadatan pada umumnya untuk mereduksi rongga udara di dalam butiran tanah atau dengan kata lain memperkecil nilai porositas udara di dalam tanah agar semakin padat/compact. 

2. Dynamic Compaction/Pemadatan Gravitasi Massa

     Pemadatan jenis ini pada prinsipnya sama dengan pemdaatan roller tetapi pada pemadatan ini lebih memanfaatkan energi massa gravitasi bumi. Prinsip kerja pada Dynamic Compaction yaitu dengan menjatuhkan lempengan baja berat berbentuk lingkaran dengan bantuan mesin crawler crane pada elevasi tertentu yang kemudian memberikan efek pemadatan pada suatu tanah dengan ketebalan yang direncana untuk pemadatan. 

3. Vibrofloat,

     Metode ini digunakan pada jenis lapisan tanah yang memiliki daya ikat antar butiran yang lemah dan berpasir sehingga diperluhkan suatu teknik untuk meningkatkan gradasi agar lebih heterogen dan meningkatkan kekuatan daya ikat antar butiran tanah guna mencegah terjadinya proses likuifaksi tanah berpasir. Metode ini pada prinsipnya menggunakan media getar / vibro tabung yang diturunkan ke dalam lubang/core di dalam lapisan tanah yang telah dilubangi dan kemudian dilakukan proses penggetaran mekanis agar memberikan tingkat gradasi yang lebih heterogen sehingga dapat meningkatkan perkuatan daya dukung tanah. 

4. Prefabricated Vertical Drain (PVD), 

     Metode PVD digunakan untuk mempercepat proses konsolidasi yang akan terjadi pada lapisan tanah khususnya pada tanah timbunan yang besar seperti proyek reklamasi. Prinsip kerja PVD yaitu mempercepat proses konsolidasi (Acceleration Consolidated) dengan mereduksi nilai poritas air/kandungan air di dalam lapisan tanah dengan kata lain mempercepat pengeluaran kandungan air yang masih terperangkap di dalam pori butiran tanah.

5. Dewatering Process

     Metode ini digunakan untuk memperbaiki dan mengontrol jumlah air di dalam lapisan tanah galian yaitu dengan rekayasa pemompaan air keluar dari areal pekerjaan galian seperti pekerjaan basement gedung, terowongan dsb. Proses dewatering dapat dikelompokan menjadi 3 jenis.

     Pertama sistem Open Pumping yaitu dengan menguras air dengan menggunakan mesin pompa secara langsung pada area galian yang mengalami keadaan jenuh air yang tinggi kemudian dialirkan ke saluran pembuangan/draianse.

     Kedua  yaitu sistem  PreDrainage  yaitu metode  dewatering dengan melakukan proses pengurasan air dengan sistem pompa melalui beberapa tahap elevasi galian,

     Ketiga yaitu sistem Cut-Off, yaitu sistem dewatering dengan mengcover keliling area galian dengan menggunakan jenis konstruksi dinding penahan tanah seperti sheet pile, diaprahgm wall, contingous pile dsb guna memotong jalur aliran muka air tanah ke area galian yang dikerjakan.

6. Substitution Soil

     Metode ini diaplikasikan jika jenis tanah bersifat buruk dan tidak memiliki daya  dukung yang direncanakan misalnya tanah jenis gambut/peakyang memiliki kandungan organik yang tinggi dan lumpur, oleh karena kondisi demikian maka sistem substitusi tanah dengan tanah yang memiliki daya dukung yang lebih baik dapat dilakukan.

7. Pile Support Soil,

     Metode ini dapat pula diaplikasikan pada jenis tanah yang memiliki daya dukung yang kurang baik/tanah lembek terhadap beban yang akan bekerja di atsanya seperti konstruksi jalan raya maupun landasan pacu/run way.Metode ini pada prinsipnya dapat memberikan daya dukung kelompok pada lapisan tanah terhadap beban yang akan bekerja di atasnya dengan sistem pipa yang di cor di dalam tanah pada kedalaman,  jarak dan jumlah yang ditentukan berdasarkan rencana yang telah dianalisis.

 

8. Getotextile

     Metode ini sudah mulai banyak digunakan khusunya pada poryek konstruksi jalan raya, kereta api/railway dan perkuatan tebing guna memberikan peningkatan terhadap kapasitas daya dukung tanah. Prinsip kerja dari aplikasi geotextile yaitu dengan bahan yang bersifat polimer elastis dapat memberikan daya dukung dan kepadatan terhadap lapisan tanah saat beban bekerja di atasnya.

9. Chemical, Asphalt, Cement dan CaCO3/Limestone

     Metode yang terakhir ini bersifat non mekanis yaitu berupa rekayasa dengan campuran beberapa zat Admixture dan Addictive  ke dalam lapisan tanah seperti dengan menggunakan campuran bahan kimia tertentu, aspal, semen dan zat kapur ke dalam lapisan tanah guna memberikan daya dukung yang signifikan terhadap beban yang akan bekerja di atasnya.

     Dari semua metode rekayasa stabilitas perkuatan daya dukung tanah yang telah dipaparkan tentunya memiliki tujuan yang sama yaitu agar tanah sebagai landasan suatu konstruksi dapat menerima beban yang akan bekerja tanpa menimbulkan kerusakan dan dampak yang buruk selama umur pelayanannya.